NILAI SEBUAH PERSAHABATAN
Beliau kemudian berdiri di depan emas dan berkata, "Jadilah seperti
asalmu." Emas itu pun kembali menjadi batu. "Lihatlah bagaimana dunia
memperlakukan mereka," kata Nabi Isa AS kepada kaumnya. Beberapa tahun
kemudian Nabi Isa bersama kaumnya melewati tempat itu. Mereka melihat
tiga bongkahan emas dan tiga kerangka manusia. Kedua pendatang tadi
juga mempunyai rencana, "Mengapa kita harus memberi dia. Jika telah
kembali, kita bunuh saja dia. Emas itu semua akan menjadi menjadi milik
kita berdua." Ia lalu membeli racun yang paling ganas, siapa pun yang
memakannya pasti akan mati seketika. Racun itu lalu ia taburkan di
atas makanan mereka. "Untuk apa aku membagi emas itu dengan mereka
berdua, emas itu kan milikku," pikir si pemilik emas. Timbullah niat
untuk meracuni makanan. Setelah mengambil secuil emas, ia lalu pergi
membeli makanan untuk mereka bertiga. Melihat mereka berdua hendak
membunuhnya, ia segera berkata, "Emas ini kita bagi saja, satu untukku
dan sisanya untuk kalian berdua."Mereka pun rela dengan pembagian itu.
"Kalian tidak pantas mengambil milikku dan kalian sama sekali tidak
akan mendapatkan bagian," kata pemilik emas. "Ambillah semua emas ini,
aku tak mau berteman dengan pendusta," kata beliau sambil meninggalkan
temannya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan
mereka melihat seekor kijang. Setelah dipanggil, kijang itu pun datang
menghampiri beliau. Beliau lalu menyembelih, memanggang dan memakannya.
Sehabis makan, Nabi Isa berkata kepada tulang-tulang kijang,
"Berkumpullah kamu." Tulang-tulang itu pun berkumpul. Beliau lalu
berkata, "Dengan izin Allah, jadilah kalian seperti semula."
Tulang-tulang itu segera bangkit dan berubah menjadi kijang."Demi Allah
yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang telah
makan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa AS."Aku tidak tahu," jawab
temannya. "Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu,
siapakah yang telah makan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa kepada
temannya."Aku tidak tahu." Setelah masing-masing makan sepotong roti,
keduanya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tepi laut.
Nabiyullah Isa menggelar sajadahnya di atas laut, mereka berdua lalu
berlayar ke seberang. "Aku tidak tahu."
Komentar
Posting Komentar